Tampilkan postingan dengan label Asal usul suku nias. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal usul suku nias. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2012

Asal usul marga(mado) GEA

          Salam damai sejahtera buat kita marga gea di tanah air dimana pun anda semua berada,dengan ini saya ini memberikan sedikit infomasi tentang silsilah marga GEA,pada awalnyapun saya sangat kepengen tau tentang hal ini,saya tanya melalui teman2,semua pada tidak tau,eh saya coba cari cari di internet,eh saya ketemu jadi saya lampirkan diblog ini dengan tujuan agar saudaraku serumpun marga GEA yang pengen tau juga,bisa mengetahui lewat blog saya ini.

          Nenek Moyang Ono Niha(anak nias) yang bernama SIRAO. Tuada(kakek,buyut) Sirao Uwu Zihönö, Tuada Sirao Uwu Zato atau Tuada Sirao Si Meziwa Tuha, Tuada Sirao Si Meziwa Salawa memiliki 5 Orang Anak yaitu :

1.    Tuada Hia Walangi Adu
2.    Tuada Gözö Hela-Hela Danö
3.    Tuada Daeli Sanau Talinga/Daeli Sanau Tumbo.
4.    Tuada Hulu Börö Danö
5.    Tuada Sebua Moroi Ba Langi

Mengenai Silsilah/Keturunan dari Tuada Hia Walangi Adu, Tuada Gözö Hela-Hela Danö, Tuada Hulu Börö Danö dan Tuada Sebua Moroi Ba Langi, saya tidak menguraikannya sekarang, biarlah merupakan bahan pemikiran bagi saudara-saudara kita yang lain.

Berikut ini, saya hanya menjelaskan khusus mengenai Silsilah/keturunan dari Tuada Daeli Sanau Talinga / Tuada Daeli Sanau Tumbo sampai dengan Tuada Gea dan keturunannya, sebagai informasi bagi keturunan Tuada Daeli dan Tuada Gea terutama para generasi muda yang lahir dan besar di perantauan.

Perhatikan syair berikut ini :
-LADADA RAYA HIA,
-LA FAILO YÖU GÖZÖ
-NO OBU’U MOHULU GOTOU,
-NO OBU’U MOHULU GURO
-ANDRÖ LADADA DUADA DAELI SANAU TALINGA,
-TUADA DAELI SANAU TUMBO
-BA LARAGA TALU NIDANOI,
-BA DÖLAMAERA TANÖ SEBOLO.

Dari syair tersebut sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa Tuada Daeli bertempat tinggal di Tölamaera Idanoi, yang saat ini termasuk Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi, kemudian dimakamkan juga di Tölamaera, dimana makamnya telah dipugar sehingga dapat dikunjungi orang dengan leluasa.

Lalu apa hubungannya Tuada Daeli dengan Tuada Gea atau Marga Gea?
Tuada Gea merupakan keturunan ke-13 dari Tuada Daeli, dengan urut-urutan sebagai berikut :
  1. Tuada DAELI mempunyai seorang anak laki-laki bernama DAULU,
  2. Tuada DAULU mempunyai seorang anak laki-laki bernama DAOLE,
  3. Tuada DAOLE mempunyai seorang anak laki-laki bernama FO’ANA’A,
  4. Tuada FO’ANA’A mempunyai seorang anak laki-laki bernama SAWA NAGARA,
  5. Tuada SAWANAGARA mempunyai seorang anak laki-laki bernama LAMBA HORÖ,
  6. Tuada LAMBA HORÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama HALU FAFÖFÖ,
  7. Tuada HALU FAFÖFÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama LÖSU ANA’A,
  8. Tuada LÖSU ANA’A mempunyai seorang anak laki-laki bernama SIGELO HORÖ,
  9. Tuada SIGELO HORÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama TÖWA HORÖ,
  10. Tuada TÖWA HORÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama GOWE MESICHO,
  11. Tuada GOWE MESICHO mempunyai seorang anak laki-laki bernama SAKU ANA’A,
  12. Tuada SAKU ANA’A mempunyai seorang anak laki-laki bernama BA’U ALÖSÖ
  13. Tuada BA’U ALÖSÖ mempunyai seorang anak laki-laki bernama GEA.

Tuada Gea lahir dan bertempat tinggal di Tölamaera dan dimakamkan di Dusun Bawasalo’o, Desa Lewuöguru Kecamatan Gunung Sitoli Idanoi.

Tuada GEA mempunyai 9 orang anak, 8 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan yaitu :
  1. FARASI (Marga Farasi)
  2. GÖMI (Memakai Marga Daeli)
  3. MANGARAJAEMBO (Memakai Marga Gea)
  4. OWO (Tinggal di Pulau Singkep)
  5. WEWE SESOLO (Marga Larosa)
  6. GARI NALAWÖ (Marga Laowö & Humendru)
  7. FAU (Marga Fau, Lafau).
  8. NUZA NIHA (Memakai Marga Gea)
  9. SAUSÖ LAMA (Istri Ho ke-2 yang mempunyai 1 orang anak laki-laki bernama LAOYA).

Tuada LAOYA mempunyai  9 orang anak yaitu :
1.Lukhu Toli (Marga Harefa),
2.Lukhu Banua (Marga Telaumbanua),
3.Lukhu Bongi (Marga Laoli),
4.Lukhu Hada (Marga Mendröfa),
5.Lukhu Zendratö (Marga Zendratö),
6.Lukhu Lase (Marga Lase),
7.Lukhu Tuhe (Marga Lafau, Bawamenewi, Taföna’ö),
8.Lukhu Baene/Lukhu Ana’a (Marga Zamasi, Bate’e) dan
9.Lukhu Manu (Duha, Zalukhu, Bidaya, Dakhi, Sarumaha, Hondrö).

Jadi, Marga Farasi, Marga Daeli, Marga Larosa, Marga Laowö, Marga Humendru, Marga Fau adalah Keturunan Duada Gea dan pada awalnya seluruhnya berasal dari TÖLAMAERA.



terimakasih untuk semua semoga bermafa'at.

Ya’ahowu…!!!

Minggu, 25 Maret 2012

asal usul suku nias

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. dermawan laoli Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.


Mitologi

Tari Perang
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Penelitian Arkeologi

Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.


Makanan Khas

  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  • Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
  • Raki gae (pisang goreng)
  • Tamböyö (ketupat)
  • loma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
  • gae ni bogo
  • Kazimone (terbuat dari sagu)

Minuman

  • Tuo Nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe") yang telah diolah dengan cara penyulingan)
  • Tuo mbanua (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa)

Budaya Nias

 

  • Hombo Batu (Lompat Batu)
  • Tari Perang
  • Maena(sebuah tari-tarian secara berkelompok)
  • Tari Moyo(tari elang)
  • Tari Mogaele
  • Sapaan Ya'ahowu
  • Fame Ono nihalõ (Pernikahan)
  • Omo Hada(Rumah Adat)
  • Fame'e Tõi Nono Nihalõ (Pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikah)
Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.